Foto Membakar dan Menginjak Keris di Medsos Terus Menuai Keprihatinan

JAKARTA – Facebook beberapa hari ini dihebohkan oleh foto beberapa orang yang membakar dan menginjak keris. Aksi provokasi ini dilakukan oleh seorang warga Indonesia bernama Perdana Akhmad Lakoni (PAL)  pada 02 Oktober 2016 lalu.

Lewat akun facebooknya, Perdana mengupload empat foto aksi kelompoknya menginjak dan membakar keris. Perdana menulis dalam postingan itu. “Kemusyrikan pada 1 syuro terjadi dimana semua benda keramat dijamas dan diagungkan juga dikeramatkan. Banyak juga ritual pengisian ilmu kesaktian dan ilmu ghoib semuanya syirik. Wajib dihinakan dan dimusnahkan

Apa yang dilakukan Perdana sangat disesalkan oleh Hariqo Wibawa Satria (35 th), Direktur Ekskutif Komunikonten, Institut Media dan Diplomasi. Menurut Hariqo, pihak facebook sudah melarang facebook digunakan menyebar provokasi, kebencian, dll. Namun banyak yang tidak membacanya

Pria asal Bukittinggi ini melanjutkan, ada tiga isu utama di medsos; keamanan, kreatif, kolaborasi. Aksi membakar dan menginjak keris itu berpotensi merusak suasana aman, aksi itu miskin kreatifitas dan tidak ada unsur kolaborasinya untuk kepentingan nasional. Disaat anak-anak bangsa lain berkolaborasi mempromosikan budayanya. Di Indonesia malah ada yang berkompetisi memaksakan kehendak, merasa paling, menganggap orang lain pantas dihina, pantas diinjak, pantas dibakar, ini menyedihkan.

Di UU ITE No 11/2008, Pasal 27, 28 juga sudah dijelaskan, agar setiap orang tidak menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian di masyarakat. Pelanggaran atas hal tersebut bisa dilaporkan kepada kepolisian. Menteri Agama pun sering mengatakan, dakwah itu mengajak, bukan memaksa, apalagi menteror, melakukan provokasi.

“Selain soal hukum, ini juga soal Akhlak, foto yang diposting itu sangat-sangat tidak pantas, sangat provokatif. Keris, Batik, Noken, Angklung, dll adalah budaya Indonesia yang diakui dunia. Keris itu ada di Jawa, Sumatera, Madura, Kalimatan, Nusa Tenggara, Sulawesi, dll. Anak-Anak sekolah ini lewat buku pelajaran, sementara ada orang dewasa menginjak dan membakarnya, lalu foto menginjak dan membakar itu diposting di medsos, ini menyedihkan”, Ujar Hariqo melalui sambungan telepon dari Bangkok, Thailand, pada Kamis (13/10/2016).

Hariqo menambahkan, semoga tidak ada lagi aksi menginjak-injak dan membakar produk budaya di kemudian hari. “Dunia mengakui produk budaya kita, sementara kita membakar dan menginjaknya. Dakwah yes, santun wajib. Untungnya teman-teman kita pecinta keris ini sabar, meski aksi membakar dan menginjak keris itu sangat menyakitkan.

Senada dengan Hariqo, Unggul Sudrajat, Peneliti Sejarah dan Budaya, Balitbang, Kemendikbud juga menyayangkan perihal tersebut.

“Keris Indonesia telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 25 November 2005 sebagai Karya Agung Warisan Takbenda Kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia. Seharusnya kita berjuang bersama melestarikannya. Bukan malah menghinakannya. Pijakan berfikir yang menempatkan keris sebagai benda mistik dan syirik harus diubah. Bahwa keris merupakan benda seni yang berakar dari tradisi serta mempunyai nilai luhur dan falsafah tinggi, itu yang harus segera disampaikan oleh semua pemangku kepentingan yang ada. Dunia pendidikan memegang peranan penting dalam proses edukasi ini, tentu saja dengan dukungan dari masyarakat perkerisan semuanya bergerak bersama, maka pelestarian keris akan tumbuh dan berkembang. Bila salah satu pihak tidak bergerak, ya susah, edukasi keris hanya akan jalan di tempat.” Jelas Unggul ditemui di galeri antiknya,  Galeri Omah Nara.

Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji Nusantara (SENAPATI Nusantara) sebagai wadah komunikasi seluruh masyarakat tosan aji Indonesia mengutuk keras atas tindakan provokasi dan pembakaran Keris yang dilakukan oleh Perdana Akhmad Lakoni dalam postingan di akun Facebooknya. SENAPATI Nusantara sudah menggalang dukungan petisi nasional dan hingga hari ini sudah sekitar 1437 orang yang menandatangi petisi ini.

“Kami mengutuk keras upaya pemusnahan dan provokasi yang dilakukan oleh saudara Perdana Akhmad Lakoni dalam postingan di akun Facebooknya. Melihat keris harus utuh, tidak dapat hanya melihat dari perspektif agama saja. Artinya, aspek budaya harus dilihat. Jika memang soal perilaku yang dianggap menyimpang dari ajaran islam, maka cara berfikirnya yang harus diubah, bukan lantas merusak bendanya. Perilaku pembakaran dan provokasi tersebut bukan mencerminkan perilaku islami, namun justru mencerminkan perilaku tidak berbudaya!”.Tegas ketua harian SENAPATI Nusantara, MM. Hidayat.

Upaya mengkonfirmasi dan memberikan penjelasan mengenai Keris Indonesia kepada yang bersangkutan sudah diupayakan oleh SENAPATI Nusantara, baik melalui sambungan telepon maupun melalui akun media sosialnya. Namun yang bersangkutan tidak menanggapinya dan justru malah semakin melakukan provokasi.

“Kami prihatin dengan cara-cara yang dilakukan oleh Perdana Akhmad Lakoni. Sebagai muslim saya kira bukan seperti itu cara mengajak orang. Provokasi dan tindakan menjelek-jelekkan pelestari keris justru akansemakin menjauhkan orang dari nilai keislaman. Kami khawatir apa yang telah dilakukan oleh Perdana Akhmad Lakoni terhadap Keris Indonesia saat ini mungkin saja juga akan terjadi terhadap karya agung bangsa Indonesia lainnya, seperti candi, seni tari, wayang, seni batik, ritual upacara tradisional dengan mendasarkan pada pemahaman yang salah mengenai budaya yang sarat akan filosofi. Untuk itu, kami meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Dirjen Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Kepolisian Republik Indonesia untuk melakukan tindakan tegas terhadap Perdana Akhmad Lakoni yang telah meresahkan masyarakat Indonesia.” Pungkas MM Hidayat./ dra/ (@komunikonten )

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *