Figur Baru Singkawang Segera Hadir

 ( Bagian I )

Bismillaahirrohmaanirrohiim

MERIAH, ramai dan heboh. Begitu kalimat yang pantas untuk menyikapi euforia Pilwako Singkawang. Ditandai dengan banyaknya orang yang bernafsu menjadi walikota dan wakil walikota periode 2017-2022.

Tabel asset hilang berdasarkan LHP BPK./ rd
Tabel asset hilang berdasarkan LHP BPK./ rd

Cermin untuk mengukur diri sebagai wahana introspeksi seolah hilang. Sekelas politisi hitam hingga pengusaha kacangan yang bermasalah turut memproklamirkan diri, maju. Kemenangan jadi target, tanpa berpikir akan kalah dan tersungkur.

Apakah mereka itu layak memimpin Kota Singkawang berikutnya ? Apakah tiga periode kepemimpinan sebelumnya telah ideal ?  Jawaban jujur ada pada diri masyarakat Kota Singkawang, terutama para pemilih.

Kota berpenduduk 250 ribu jiwa lebih ini dibawa para pemimpinnya terjerumus dalam politisasi wacana. Proyek mercusuar hanya lapak jualan saja untuk menarik simpatik, demikian pula komitmen ekonomi kerakyatan.

Proyek khayalan semu berupa Bandar Udara (Bandara) tinggal cerita meski telah menghabiskan biaya pre feasibility study dan pembebasan lahan yang cukup besar.

Belum lagi soal perpindahan lokasi calon Bandara dengan dua kali peletakan batu pertama. Pertama kali di Sungai Rasau Singkawang Utara di era Awang Ishak (AI). Kemudian pindah lokasi di Singkawang Selatan pada masa Hasan Karman (HK).

Wacana Bandara pun sukses menyedot perhatian dan membuang anggaran untuk bualan selama hampir 14 tahun.

Ada juga janji-janji yang tidak ditepati untuk ketersediaan air bersih. Proyek pipanisasi pun mangkrak dan PDAM-nya sakit kronis. Demikian halnya proyek pelabuhan yang mubadzir tanpa perencanaan matang. Sedimentasi menjadi masalah dan tak mungkin fokus pengerukan alur sungai terus menerus.

Sebuah NGO yang konsen melaporkan kasus korupsi di Singkawang malah menemukan proyek yang diduga tidak tepat sasaran dan asal-asalan diantaranya Pusat Informasi Pariwisata (PIP), museum, sejumlah proyek jalan, pengadaan bibit, pengadaan kapal nelayan, rumah autis, deposito Pemkot dan seabreg lainnya.

Apakah sedikit data ini belum bisa menyadarkan bahwa ada yang salah dalam pengelolaan Singkawang selama ini ?  Mantan ibukota Kabupaten Sambas yang resmi menjadi pemerintahan kota sejak 2002 tersebut ibarat menunggu tangan-tangan terampil dan handal yang progressive.

Cukup sudah ‘ trial and error ‘ alias mencoba kemudian gagal. Jangan lagi kepercayaan masyarakat Singkawang dikhianati sehingga bebannya ditanggung anak cucu hingga tujuh turunan.

Menjadi pertanyaan besar, kemana semangat para penggagas berdirinya Kota Singkawang yang dulu bahu-membahu hendak mewujudkan kemakmuran masyarakatnya ? Lagi-lagi telunjuk untuk menyalahkan tertuju kepada para elit dan penikmat di lingkar kekuasaan.

Alhasil, untuk mengelola APBD berkisar Rp 900-an Miliar pun berantakan. Visi dan Misi juga hanya coretan di atas kertas yang menghipnotis masyarakat ketika dibaca seperti mantra, namun kenyataannya bertolak belakang.

Pilihannya hanya satu yakni berubah dan tidak menjadikan Pilwako sebagai perebutan kekuasaan para elit. Anda sebagai masyarakat Singkawang yang menentukan keselamatan generasi anak cucu saat ini dan masa mendatang.

Tentu saja sudah bisa terbaca siapa saja para calon kandidat walikota-wakil walikota yang tidak boleh dipilih.

Yakinlah bahwa masih ada emas permata yang berkilau meski berada di kubangan lumpur yang kotor sekalipun.

Namanya masih tetap emas permata. Merekalah yang memiliki komitmen teguh dan siap memikul amanah. Mereka adalah generasi Skuadron Naga Putih./***

(R. Rido Ibnu Syahrie/praktisi Pers Kalbar)

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *