Dugaan Pungli di SDN 23 Bekut Kecamatan Tebas

( POSTKOTAPONTIANAK.COM )

SAMBAS-Sekolah adalah sebuah pranata sosial yang bersistem, terdiri atas komponen yang saling terkait dan pengaruh mempengaruhi, komponen

Dugaan Kantin yang dipungli dengan latar belakang SDN 23 Bekut Kec Tebas Kab. Sambas . (foto: luxman)
Dugaan Kantin yang dipungli dengan latar belakang SDN 23 Bekut Kec Tebas Kab. Sambas . (foto: luxman)

utama sekolah adalah siswa, pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, kurikulum serta fasilitas pendidikan .

Selain itu pemangku kepentingan yang dapat bekerjasama secara sinergis dengan sekolah, dalam hal ini orang tua murid dan masyarakat merupakan pemangku kepentingan yang harusnya dapat bekerjasama secara sinergis dengan pihak sekolah .(dikutip dari sumber Dirjen Pendidikan Dasar RI).

Salah satu Sekolah Dasar Negeri 23 Bekut Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas Kalbar, justru malah dianggap tidak mampu bekerjasama secara sinergis dengan masyarakat dilingkungan sekolah itu sendiri.

Pasalnya, sang Kepala sekolah Rima Rudiyanti, Spd, diduga telah melakukan praktek pungli terhadap kantin-kantin kecil yang berada diluar lingkungan sekolah tersebut tepatnya diluar pagar sekolah.

Kepala sekolah diduga telah membuat kebijakan sepihak dengan melakukan pungutan sebesar Rp.2000 (Dua Ribu) perharinya kepada 2 buah kantin milik Evi dan Sirus.

Tak pelak tentu saja sipemilik kantin tersebut merasa keberatan, sebab kantin milik mereka berdiri diatas tanah milik sendiri bukan di halaman sekolah sebagaimana dituturkan oleh Evi dan Sirus.

Ini Kebijakan sepihak tanpa musyawarah terlebih dahulu dengan kami, jelas Sirus pada “Postkotapontianak.com”. Keluhan senada juga diutarakan Evi, untuk Hari Sabtu yang jam belajarnya pendek kami tetap dipungut dengan media karcis bertuliskan pungutan kebersihan lingkungan SDN 23 Bekut. Baik Sirus maupun Evi menyatakan keberatan bahkan sudah ada 9 bulan dipungut tersebu, cetusnya berdua.

Secara terpisah dikediamannya Ketua Komite SDN 23 Desa Bekut Pendi , menyatakan bahwa perihal pungutan oleh pihak sekolah terhadap kantin diluar sekolah adalah tanpa sepengetahuannya, kalau pungutan sebesar Rp.20.000,-(Dua puluh ribu), wali murid memang saya akui atas persetujuan komite. Hal ini terpaksa dilakukan demi memenuhi kekurang kursi untuk 41 siswa, namun uang yang terkumpul berjumlah Rp.2.015.000 (dua Juta Lima Belas Ribu ) dan hanya dapat membeli 31 buah kursi siswa, kekuranganya komite yang nombok, papar Pendi.

Diruang kerjanya Kepala Sekolah SDN 23 Bekut Rima Rudiyanti, S.Pd membenarkan, bahwa pihak sekolah telahpun melakukan pungutan uang kebersihan lingkungan sekolah dengan karcis seharga Rp.2000/perlembarnya, dan uang itu untuk membeli tong sampah, sebab sampah tersebut berasal dari kantin luar sekolah yang dibawa oleh murid-murid saat membeli makanan, jadi apa salahnya jika kami memungut uang pada kantin tersebut, kok sampai dibesar-besarkan, jawabnya kesal.

Petugas Pemungutan uang kebersihan tersebut bernama Tiara murid kelas 6 sekolah ini.

Saya rasa tidak usahlah dibesar-besarkan, apalagi ini hanya masalah kecil, dan saya rasa masih banyak sekolah-sekolah lain yang lebih banyak meminta pungutan kepada wali murid untuk memenuhi fasilitas sekolah. Bahkan lebih parah lagi, kenapa anak-anak sekitar lingkungan sekolah yang merusak fasilitas sekolah, masuk dalam kelas bahkan perpustakaan dan melempar-lempar dinding tidak dipermasalahkan, ujar Rima pada wartawan.

Lanjut Rima, selalu pihak sekolah saja yang disalahkan, niat baik kami selalu disalah artikan, kami datang mengajar disinikan demi mencerdaskan anak-anak disini, kata Rima yang ternyata pernah diminta pindah oleh beberapa wali murid di SDN Matang Bekut sebelum masuk ke SDN 23 Bekut ini.

Sekarang semangat kami untuk mengajar jadi lemah, tadinya semangat kami sangat kuat, tegas Kepsek yang menjadi buah bibir ibu-ibu sekitar sekolah karena suka mencubit murid-muridnya sampai kulit anak-anak kami kebiru biruan.(Lukman Hakim)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *