Dua Tahun Tak Mendapat Pupuk Bersubsidi, Warga Kecewa

(POSTKOTAPONTIANAK.COM)

JEMBER-Malam itu, sekitar pukul 19.30 Wib, puluhan petani Dusun Muneng Timur, Desa Mayangan, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember

Sejumlah Petani Saat Mengikuti Temu Tani Di Musolla Warga Setempat. (foto:dok SN)
Sejumlah Petani Saat Mengikuti Temu Tani Di Musolla Warga Setempat. (foto:dok SN)

berkumpul di sebuah surau milik warga setempat. Sebagian mereka duduk-duduk diserambi, sembari menunggu beberapa petani lain yang masih belum datang.

Selasa 17 Maret 2015 lalu, suasana di musholla itu mulanya berlangsung tenang. Ruangan ditata sedimikian rupa hingga menyerupai masjid, karpet berbentuk sajadah tertata memanjang, diserambi depan lantainya dilapisi karpet merah yang nampak usang. Namun paska petani menyampaikan uneg-uneg tentang kelangkaan pupuk bersubsidi, tiba-tiba suasana terasa memanas.

Suparman, salah seorang tokoh masyarakat, memulai rapat tersebut dengan agenda penyegaran Kelompok Tani Muneng Makmur I.Baru kemudian, sesi tanya jawab dibuka seusai pengurus lama telah diganti dengan sejumlah pengurus baru. Hadir dalam kesempatan itu, beberapa pemangku kepentingan, yaitu Kepala Desa Mayangan, Sulimah, Perwakilan UPT Pertanian Laksono dan Didik Triyanati, perwakilan Koramil Gumumkmas, Andik, serta pemilik kios resmi pupuk bersunsidi, Holil.

Katiman, salah seorang penggagas gerakan tersebut mengatakan, pertemuan ini sebenarnya adalah gerakan yang muncul lantaran dua tahun terakhir petani tak mendapatkan pupuk bersubsidi. Petani geram, meski ada kelompok tani dan kios resmi yang ditunjuk oleh pemerintah di daerahnya, namun berkali-kali petani selalu kecele. Alasannya klasik, kuota pupuk subsidi tak cukup memenuhi kebutuhan petani.

Petani curiga, ada permainan dan kongkalikong antara pemilik kios dengan oknum pengawas Dinas Pertanian dan Kelompok Tani setempat, yang sengaja menjual pupuk keluar daerah hanya untuk mengejar keuntungan semata. “ Selama dua tahun terakhir ini, kami para petani tidak pernah mendapat pupuk bersubsidi,” kata Katiman, yang langsung disambut riuh para petani lain.

Padahal, lanjut Katiman, penentuan kuota pupuk tersebut berdasarkan RDKK (Rencana Devinitif Kebutuhan Kelompok) yang didasarkan luas hamparan tanah pertanian di daerahnya, “lantas kemana larinya pupuk bersubsidi itu?,” ujarnya.

Menurut Katiman, sebenarnya petani dapat memahami, jika tidak cukupnya ketersediaan pupuk itu hanya sekali atau dua kali, namun jika hal itu berlarut-larut hingga dua tahun lantas dikemanakan pupuk yang telah menjadi hak mereka, “ kalau tidak cukup petani sudah paham, tapi jika sampai dua tahun tak mendapat pupuk sama sekali, ini siapa yang bermain?” tandasnya.

Menanggapi protes petani, Laksono seorang Mantri Pertanian sekaligus perwakilan UPT Pertanian Kecamatan Gumukmas mengatakan, tidak cukupnya pupuk bersubsidi tersebut lantaran pemenuhan kuota pupuk yang ditetapkan oleh pemerintah hanya 90% dari kebutuhan total petani di Jember. Dia berkilah, pada saat musim tanam kemarin tak hanya petani di wilayah mayangan saja yang kelimpungan, melainkan hampir seluruh petani di Kabupaten Jember juga merasakan hal yang sama.

Mengenai lamanya waktu selama dua tahun bagi petani setempat yang tak mendapatkan pupuk bersubsidi tersebut, Laksono menganggap mungkin ada ketidak sambungan komunikasi antara pemilik kios dan kelompok tani yang menjadi jembatan bagi petani dalam mengakses pupuk, “mungkin ada faktor komunikasi yang buntu,” jawabnya, sembari menjelaskan bahwa pihaknya tidak ada kewenganan mencabut izin kios “nakal” yang menjual pupuk keluar daerah dengan harga diatas ketentuan, “itu menjadi kewenangan distributor pupuk,” terangnya.

Sontak, penjelasan Laksono memantik tuduhan miring dari petani. Petani menganggap, pemerintah tidak sungguh-sungguh dalam melakukan pengawasan distribusi pupuk terhadap petani. Faktanya, meski ada indikasi kios tersebut melanggar ketentuan tetapi pemerintah tak mengambil tindakan tegas, “bagaimana mau swasembada pangan, jika petani untuk mendapatkan pupuknya saja sulit,” pungkas sulistyo, petani yang lain. (Mahrus)/SN.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *