Dilema Imam dan Makmum

Bagian ke II

Oleh : Abdul Hamid, S.Sos.I

Imam dapat dimaknai sebagai Pemimpin

SEORANG yang ingin menjadi Imam (Pemimpin), haruslah memiliki syarat dan kriteria yang khusus. Disamping kriteria yang khusus akan kefasihan membaca ayat-ayat al Quran, juga diutamakan penduduk asli (muqimin), karena kemungkinan penduduk asli (muqimin) sdh mengenal makmumnya dan bisa memahami kondisi psikologi makmumnya. Jarak Imam dan Makmum haruslah “dekat”, tidak boleh terlalu jauh, karena jika terlalu jauh maka itu tidaklah bisa disebut berjamaah.

Demikian juga jika ini dilihat dalam perspektif yang lebih luas, di luar tatanan sholat berjamaah. Pemimpin (imam) yang arif sangatlah diperlukan bagi rakyat (makmum).  Kearifan seorang pemimpin ditandai dengan sikap yang tidak memiliki jarak antara dirinya dengan yang dipimpin (masyarakat). Karena hakikat seorang pemimpin hanyalah “penyambung atau wasilah” bagi hajat hidup (kesejahteraan) untuk masyarakat. Itulah investasi akhirat yang luar biasa yang akan diperoleh bagi seorang Pemimpin yang menjalankan tugas kepemimpinannya dengan amanah dan teguh hati (istiqomah).

Namun siksa yang sangat dahsyat kelak di akhirat, yang akan diperoleh oleh Pemimpin yang berorientasi untuk dirinya dan keluarganya (project oriented), serta lalai dalam memperhatikan kepentingan masyarakatnya.

Kearifan seorang pemimpin dapat dilihat dalam sikap dan pola fikirnya, tidak anti kritik, sungguh-sungguh dalam menjalankan beban amanah yang sangat besar dipundaknya, serta luwes dalam berkomunikasi, dekat dihati rakyatnya, serta bersinergi dengan aparatur pemerintahan di bawahnya.

Jika saja pemimpin dengan senang hati mau membangun komunikasi efektif di setiap lini birokrasi dan lapisan masyarakat luas, pendekatan tanpa sekat dan batas birokrasi yang kaku dan sempit, maka pemimpin akan mengerti setiap keluh kesah serta capaian program yang belum berhasil dijalankannya.

Tidak ada masalah yang tidak dapat dicarikan jalan keluarnya, bagi pemimpin yang mau memetakan setiap permasalahan dan berfikir bersama dengan para ahli guna mencari solusi yang nyata dan efektif.  Kalau saja dengan luasan wilayah satu daerah, yang hanya memiliki wilayah 9 Kecamatan, 60 Desa dan 7 Kelurahan, 220 Dusun, 404 RW dan 1.182 RT, Pemimpin daerahnya mau mendekatkan diri dengan seluruh aparatur pemerintahan, misalkan memanfaatkan perangkat teknologi sosial media yang sedang berkembang pesat, membuat group BB atau WA Group, Line Group, dengan anggota masing-masing aparatur daerah secara berjenjang, maka niscaya Pemimpin atau Kepala Daerah akan memahami seluruh dinamika tatanan pemerintahan dan permasalahan yang berkembang di berbagai lapisan masyarakat, kritikan dan masukan menjadi pemicu guna melakukan perbaikan dalam mewujudkan program-program pembangunan yang telah dicanangkan.

Sudah bukan masanya lagi, Imam (pemimpin) era masa kini masih menganut sistem feodalistik. Kini adalah era baru, dimana seorang Imam (Pemimpin) haruslah memposisikan dirinya adalah sebagai khodimatul ummat (pelayan masyarakat).

Penulis diajarkan oleh Muassisul Awwal Ma’had As Syafi’iyah Jakarta, ayahandanya Prof Dr Hj Tuti Alawiyah (Al Maghfurlah KH.Abdullah Syafi’i), bahwa Pemimpin hakikatnya adalah “melayani” bukan untuk “dilayani”.  Jika saja kampung halaman kelahiran penulis yakni kota Mempawah, yang dalam catatan sejarahnya adalah Negeri Yang Maju Dengan Ilmu dan Budaya serta Pemerintahan Yang Kuat dan Tangguh pada era Kerajaan terdahulu, adat bersendikan dengan syara’ dan syara’ bersendikan dengan kitabullah, menjunjung tinggi konsep kepemimpinan yang amanah, maka insyallah penulis sangat meyakini, kesejahteraan dan kemakmuranlah yang akan tercapai di Kota Mempawah yang hanya seluas 1.276,90 KM2, yakni lebih kecil 5 x lipat dr luas wilayah kota ‘anak keduanya’, Kabupaten Kubu Raya 6.985,20 KM2 atau bahkan dari ‘anak pemekaran pertamanya’, Kabupaten Landak yang memiliki luas 9.909 KM2 atau 7,7 x lipat dr Kota Asalnya yakni Mempawah.

Penulis berkeyakinan hanya pemimpin (imam) yang amanah dan visionerlah yang dapat mengembalikan kejayaan Kota Mempawah seperti 269 tahun yang silam.

Mempawah membutuhkan Imam (Pemimpin) yang berorientasi dengan prinsip ; Bagaimana “menghidupi” Kota Mempawah, bukan berprinsip bagaimana “mencari hidup” di Kota Mempawah. Tanamkanlah keyakinan, bahwa jika anda menanam padi maka niscaya rumput akan tumbuh, namun jika anda menanam rumput sungguh padi tumbuh hanyalah mimpi dan ilusi.

Berpegang teguhlah dengan prinsip-prinsip agama, bahwa manusia yang paling baik dihadapan Allah, adalah mereka yang paling banyak berbuat kemanfaatan bagi orang lain. Karena hidup ini hanyalah sekali, maka terbarkanlah kemanfaatan berkali-kali, dan jadilah pribadi yang berarti, insyallah Ridho Ilahi akan kita raih. Wallaahu A’lam ||

Penulis adalah Chairman Bina Ihya Mandiri, Praktisi Dakwah dan Praktisi Sosial.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *