Di duga lakukan tindakan semena-mena, PT.Herbalife Indonesia di Gugat

KALBAR –  PT.Herbalife Indonesia yang bergerak dibidang penjualan langsung produk-produk nutrisi, suplemen kesehatan dan perawatan kesehatan, diduga telah melakukan tindakan semena-semena terhadap Irene, Mychel  dan Tutu Anung Wiryawan selaku member atau distributor independen di herbalife.

( Kuasa Hukum Paulus, Dwi Joko Prihant0, SH, MH./wan )

Merasa tidak terima atas perlakuan PT.Herbalife Indonesia tersebut,  maka Irene,Myhcel dan Tutu Anung Wiryawan  yang didampingi Kuasa Hukumnya DR.Zevrijn H.Kanu,SH.MH bersama Dwi Joko Prihanto,SH.MH menggugat PT.Herbalife dengan mengajukan Gugatan Perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan masing-masing dengan Nomor Perkara (296/Pdt.G/2017/PN.JKT SEL. TUTU ANUNG WIRYAWAN melawan PT.HERBALIFE INDONESIA ), (373/Pdt.G/2017/PN.JKT SEL. IRENE melawan PT.HERBALIFE INDONESIA), (374/Pdt.G/2017/PN.JKT SEL.MYHEL melawan PT.HERBALIFE INDONESIA)

Dwi Joko Prihanto SH.MH selaku kuasa hukum Pengggugat mengatakan, “kami melakukan gugatan ini dikarenakan klein kami merasa telah dirugikan oleh pihak Pt.Herbalife Indonesia, pihak herbalife  sebagai tergugat dengan semena-mena telah mencoret atau menghapus nama klein kami sebagai distributor Independen dengan keputusan sepihak, tanpa membuktikan kesalahan klein kami ini apa? ”kata Dwi, kepada awak media disalah satu café dipontianak (5/12/2017).

PT.Herbalife Indonesia menduga klien kami ini telah menjual produk herbalife secara online,  padahal klien kami tidak tahu siapa yang mengiklankan produk herbalife di online tersebut. Pt.Herbalife juga tidak pernah memperlihatkan bukti pelanggaran kepada klien kami, bahkan tidak pernah memanggil klien kami untuk memperlihatakn bukti pelanggarannya secara valid,”ucap Dwi lagi.

Lebih lanjut dijelaskan Dwi, “pihak Herbalife membuat keputusan sepihak, karena  tidak pernah memberi kesempatan kepada klien untuk kami membela diri. Seharusnya pihak Herbalife sebelum mencoret atau menghapus nama klien kami, harusnya memberitahukan dulu kepada klien kami  dengan cara menggunakan surat peringatan  1,2 atau3 agar klien kami bisa tahu permasalahannya, kalau inikan tidak, tiba-tiba saja pihak herbalife memutuskan atau membatalkan Membership klien kami. Inikan jelas bertentangan dengan 1320 KUHPerdata dan 1338 KUHPerdata sebab perjanjian yang dibuat secara sepihak dengan menggunakan aturan baku yang dikenal dengan istilah Adhesi Kontrak yang wajib di taati oleh member herbalife, merupakan aturan baku yang bertentangan dengan aturan hukum yang berlaku  umum, karena member tidak berdaya dan selalu terjepit dengan klausul yang mengikat dan mutlak bagi member saja, sedangkan posisi herbalife menjadi mutlak dan tidak bisa digugat,”Jelasnya.

Dalam fakta persidangan ungkap Dwi , dari keterangan para saksi  di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta selatan terungkap “ setiap produk herbalife ada barcodenya, namun yang mengetahui barcodenya itu hanya orang dalam herbalife saja. Yang sangat kami sayangkan, klien kami dicoret dan dihapus sebagai distributor herbalife hanya berdasarkan temuan herbalife bahwa barcode produk herbalife yang dipesan oleh klien kami telah dijual secara online,”.

Selain itu lanjutnya, keterangan saksi pihak herbalife Sdr.Merry dan Leggiyanto yang juga karyawan diperusahaan tersebut  dalam persidangan mengatakan,” dirinya yang bekerja dalam melakukan penyelidikan dugaan penyalahgunaan atau pelanggaran distributor termasuk klien kami itu. selain itu, mereka juga yang telah menemukan bahwa klien kami telah melakukan pelanggaran  dengan menjual produk herbalife secara online. Tapi anehnya  mereka  tidak bisa membuktikan kalau klien kami yang mengiklankan produk herbalife tersebut di online, karena herbalife tidak pernah bertanya kepada pemilik toko online tentang siapa yang mengiklankan produk herbalife tersebut.  Mereka juga dalam persidangan  menjelaskan bahwa dalam penghapusan atau pencoretan terhadap klien kami sebagai distributor tanpa ada peringatan 1,2 dan 3, alasannya,  karena klien kami dianggap sudah mengetahui larangan berjualan secara online. Mereka juga mengatakan pelanggaran klien kami yang ditemukan menjual secara online hanya 1 (satu) bentuk produk saja yakni produk Shake, namun mereka tidak dapat menjelaskan siapa  sebenarnya yang menjual produk tersebut secara online itu, inikan aneh namanya?, klien kami dituduh menjual secara online, tetapi mereka tidak bisa menjelaskan siapa yang menjual,”ungkap Dwi Joko.

Mereka juga dalam keterangannya  ungkap Dwi joko, saksi hasil temuannya membuktikan bahwa barcode produk yang di diduga dilakukan oleh klien kami, akan tetapi mereka tidak dapat membuktikan secara utuh barang atau produk yang diduga telah dirusak atau digunting, sehingga mereka tidak tahu siapa yang menggunting barcode produk herbalife, karena mereka tidak pernah menghadirkan saksi lain yang dapat membuktikan keterlibatan klien kami dalam menjual produk herbalife secara online. Barang bukti barcode produk herbalife yang diperlihatkan  dalam persidangan merupakan guntingan dari produk herbalife, mereka tidak dapat memperlihatkan secara utuh produk herbalife bersama barcodenya. Maka timbul pertanyaan dari kami, siapa yang menggunting barcode tersebut, sebab mereka tidak dapat membuktikan siapa yang menggunting barcode itu, karena tidak ada saksi lain yang dapat membuktikan adanya keterlibatan klien kami dalam menjual produk herbalife ini secara online. “Jadi jelas, klien kami dalam hal ini telah dirugikan oleh pihak herbalife Indonesia, karena telah dicoret atau dihapus sebagai distributor independen herbalife yang mengakibatkan klien kami mengalami kerugian baik materiil dan inmateriil, karena apa yang digugat oleh klien kami selaku penggugat tidak pernah dibantah oleh pihak herbalife, baik dari pencapaian hitungan pencapaian prestasi maupun bonus-bonusnya, ”jelas Dwi Joko.

Jadi dalam hal ini lanjut Dwi Joko, PT.Herbalife tidak bisa membuktikan bahwa proses untuk menyembunyikan Barcode kepada Distributor adalah hal yang wajar, karena ini merupakan “PERMAINAN” PT.Herbalife Indonesia untuk mengelabui distributor Independen yang telah berjuang dan menghasilkan keuntungan besar bagi Herbalife, sehingga bonus ratusan juta rupiah untuk para distributor yang berprestasi sudah menanti. Hal inilah yang merupakan strategi Herbalife  untuk menghapus atau mencoret distributor seenaknya saja guna untuk menghindari kewajiban membayar segala bonus dan prestasi distributor yang berprestasi.  Barang bukti berupa barcode yang diperlihatkan oleh PT.Herbalife adalah hasil guntingan barcodenya, sedangkan barang utuh berupa produk shake yang diduga diganti atau ditukar oleh klien kami tidak pernah diperlihatkan dipersidangan oleh pihak PT.Herbalife Indonesia, jadi dalam hal ini barang bukti yang diperlihatkan oleh Pihak Herbalife dipersidangan cacat hukum karena tidak bisa menjadi barang bukti yang sempurna,”Tegas Dwi Joko. Hingga berita ini diturunkan, Pihak PT.Herbalife Indonesia belum berhasil dikonfirmasi./(wan/abePKP).

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *