Bupati Sintang Resmikan Fasilitas Sekolah Hutan.

SINTANG-www.postkotapontianak.com Senin Tanggal 22 Oktober 2018.Bupati Sintang dr.  H. Jarot Winarno,  M. med. Ph,  meresmikan Fasilitas Sekolah Hutan Jerora,  milik sintang Orangutan Center (SOC) diJl. Jerora II Kelurahan Akcaya Kecamatan Sintang.  Turut hadir dalam peresmian tersebut, Direktur Penyelamat Orangutan Sintang, Hasudungan Pakpahan, Seksi konservasi Wilayah 2. BKSDA Sintang Bharata Sibarani,  Kadis Lingkungan Hidup Kabupaten Sintang dan unsur terkait lainnya.

Bupati Sintang Jarot Winarno,  menyampaikan bersama dari masyarakat kita,  untuk menimbangkan antara konservasi pembangunan (SOC) dan penghargaan terhadap batas wilayah adat dan budaya. Bagi mereka yang beladang ada musim mereka menebang dulu,  trus membakar,  baru mereka menugal,  lalu mereka mabau,  bulan Apri pane, bulan juli mereka gawai,  itu adalah adat budaya. Ungkap Jarot

Ketua yayasan penyelamat orangutan kota sintang Hasudungan Pakpahan menyampaikan kalau khusus untuk proses belajar hutan yang untuh itu ada 5 hektar, ada area 1. dan area 2. Masing-masing itu 2 hektar lebih.

Trus disini ada juga extra itu nanti pusat pembelajaran pertanian organik trus pembelajaran mengenai konservasi itu nanti akan kita diri kan didepan kebun karet ini, kita kan jarangkan karena kebun karet ini, dulunya persemaian dibangun oleh pastor,  kemudian sekarang masyarakat sudah punya sendiri, sehingga ini tidak lagi berfungsi dan sudah ditinggal kan.

Jadi tanaman karetnya rapat sekali dan ini pun produktif, nanti kita akan jarangkan sebagai pusat pendidikan konservasi, kalau yang membedakan fungsi untuk sekolah hutannya ndak ada,  sama persis kegiatan yang dilakukan, hanya saja kalau ditebak lokasinya jauh keselatan semantara kita rilis itu ke utara dan timur, ke betung krihun kearah putusibau jadi kalau kita hanya lokasi yang di tebak,  itu sebelum kita rehabilitas kita ke bawah yang di tebak nanti pas mau rilis ambil dulu dari tebak, bawa kesini bawa lagi ke betung krihun. Jadi untuk mendekatkan lokasi liar dengan proses sekolah hutan,

Ditambahkan Hasudungan untuk kesediaan pakan yang khususnya, area itu masih hutan alam dan ini masih area hutan alam,  jadi karena ini dari zaman dahulu, ini memang tidak dibungkar.  Karena yaitu tadi, dulu nenek moyang kan dimakam kan disini, jadi kalau makam itu gak pernah diganggu oleh masyarakat tapi kita sudah bertemu dengan pemuka adat, dengan pastor bahwa kalau nenek moyang dimakam kan disini,  kemudian kalau tempatnya kita pertahan kan, dan ada orang hutan disana itu tidak masalah dari masyarakat maka kita kembangkan,  ungkap Hasudungan pakpahan.

(pewarta: Yefta LMB)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *