Belajar Dari Pengalaman Pemenang Pilpres Belum Tentu Menang di Pilkada

Balon Wali Kota Depok, Ahmad Nasir Biasane (Ist)
Balon Wali Kota Depok, Ahmad Nasir Biasane (Ist)

POSTKOTAPONTIANAK.COM ! DEPOK-Kendati mendapatkan rekomendasi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk dicalonkan menjadi Wakil Wali Kota, dirinya siap mundur dari penjaringan tersebut. Sebab, ia hanya menginginkan menjadi orang nomor satu di Kota Depok.

“Sebab saya mendaftar sebagai calon walikota, bukan wakil walikota. Sekalipun saya mendapat rekomendasi dari partai untuk dicalonkan menjadi wakil, saya tetap mundur. Keputusan itu berlaku di partai manapun, termasuk PDIP,” ujar Ketua Dewan Pakar Lembaga Pembangunan Masyarakat (LPM) Kota Depok, Ahmad Nasir Biasane, kepada wartawan, Senin (20/4/2015), di kantornya.

Nasir menjelaskan, jika hanya menjadi wakil walikota tidak akan mungkin dapat menentukan arah pembangunan Kota Depok ke depan. Padahal, ia sudah menggagas arah pembangunan Depok ke depan sejak lama.

“Ini bukan soal jabatan, karena kalau hanya masalah jabatan saya bisa menang dengan partai yang lain. Tapi lebih kepada bentuk pelayanan kepada masyarakat,” jelasnya.

Dia juga memastikan, bahwa terpilih atau tidak dirinya menjadi walikota bukan lah ambisi besarnya. Jika ada niatan seperti itu maka dipastikan tidak akan ada yang bisa menjabat sebagai walikota.

 “Kalau tidak berhasil, berarti bukan takdir bagi kita.Jikalau ada yang lebih mampuh dari saya  nantinya terpilih sebagai walikota, maka saya akan berikan seluruh gagasan yang sudah saya ciptakan sejak lama itu,” cetus Nasir.

Diapun mengingatkan, bahwa kedepan masyarakat harus giat memberi kritik. Kritik yang dibuat pun harus dibangun dan dikawal. Kedepan Tidak ada lagi cek kosong. Ia mengingatkan, sebagai pemimpin wajib rasanya memberikan akses bagi warga untuk mengkritik dan berlaku kritis.

“Jika sekarang warga menyatakan this is my country. Maka dekatkan masyarakat dengan proses pembangunan, bisa fisik maupun ide dan gagasan. Bagi saya hal ini bukan sekedar walikota, tapi pelayanan yang harus lebih diutamakan,” imbuh Nasir.

Nasir menambahkan, bahwa dirinya juga berharap kedepannya PDI Perjuangan tidak bernasib sama seperti Demokrat dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) tahun 2009 lalu. Dimana, sebagai pemenang Pemilu, Demokrat justru kandas di Pemilukada. Makanya ia berharap PDI Perjuangan segera menyusun rencana.

 “PDI Perjuangan merupakan partai pemenang yang dapat mengusung calonnya sendiri. Jangan seperti partai Demokrat, partai pemenang lima tahun lalu di pemilihan legislatif. Namun kalah di dalam pemilihan kepala daerah, itu sungguh ironi,” pungkasnya.

Nasir juga mengingatkan, bahwa ini kembali kepada PDI Perjuangan dalam menentukan figur  dan kiprah dari partai itu sendiri. Jika calon walikota maupun wakil walikota menurut masyarakat baik. Maka masyarakat akan mendukung dengan sepenuh hati.

 “Semua pilihan ada di PDI Perjuangan. Tapi jika PDI Perjuangan salah dalam memilih figur yang tidak diterima oleh masyarakat maka dapat di pastikan PDI Perjuangan akan kalah,” imbuhnya.(Faldi/Sudrajat)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *