Ayah Tiri Garap Anaknya Sejak Usia 11 Tahun

Pelakunya Dibebaskan Kades Dikantor Polisi

GARUT! POSTKOTAPONTIANAK.COM-Y, (pelaku) pelecehan dan pemerkosaan terhadap anaknya tirinya sendiri Ilustrasi.(Ist)warga kampong Cidomas Desa Sukarame Caringin Garut Jawa Barat hingga kini masih bebas berkeliaran. Hal itu membuat geram beberapa pihak termasuk masyarakat Desa Sukarame ,karena Y pelaku tetap dibbiarkan dan belum ada penaganan hukum yang jelas.

“ Kami selaku warga Desa Sukarame betul betul telah di lecehkan segala galanya oleh Y selaku pelaku dan aparat desa yang membebaskan Y di kantor Polisi. Anehnya kok Polisi malah membebaskan pelaku, padahal baik warga atau pun dari pihak keluarga korban sama sekali belum membuat laporan ke Polisi, ini malah kabarnya sudah ada surat pencabutan berkas oleh kepala Desa Sukarame,” kata beberapa warga dengan nada geram.

Warga lain mengungkapkan, kejadian pemerkosaan itu terkuat pada hari Jumat tanggal 18 September 2015 pukul 9.00 di bilangan Kp Cidomas. Saat itu M ( korban) mengirimkan SMS kepada kakaknya W. Kemudian SMS itu di di perlihatkan kepada beberapa masyarakat sekitar. Akibat SMS itu beberapa warga mendatangi rumah korban M, dan didapati Y (pelaku ) untuk ditanyai seputar Pelecehan itu. Setelah di intrograsi oleh masyarakat, pelaku mengakui perbuatan bejatnya,” terangnya.

Sumber lain menambahkan, karena Y(pelaku) mengakui perbuatan bejatnya, maka Y sempat dihakimi masa yang kemudian oleh warga di bawa kekantor desa Sukarame setelah sebelumnya di bawa kerumah Ketua RT setmpat. Usut punya usut ternyata M (korban ) adalah anak tirinya Y (pelaku). Perbuatan bejat Y ternyata sudah dilakukannya sejak M berusia 11 tahun hingga kini sudah berusia 15 tahun. “ Bisa anda bayangkan Y sangat bejat moralnya karena yang di perkosa adalah anak tirinya sendiri,” urai sumber.

Sumber mengatakan, untuk keselamatan Y (pelaku) oleh aparat desa di serahkan kekantor Polisi Sektor Caringin setelah sebelumnya di interograsi dan mengakui perbuatannya di hadapan aparat desa. Tetapi kemudian kepala desa Sukarame YS, membuat surat pencabutan ke pihak kepolisian agar Y (pelaku ) dibebaskan dengan mengeluarkan surat permohonan pencabutan dengan tanda tangan sebagian warga dengan cara interpensi dan memaksa agar mau menandatangani dengan dalih menyelamatkan Y.

“ Kami sebagai warga yang awam akan hukum tiidak mengerti kok Bu Kades tiba tiba mencabut perkara itu meminta agar Y di bebaskan, padahal sebelumnya baik korban maupun ibu korban belum membuat Laporan Berita Acara Pemeriksaan (BAP ke Polisi ). Jika ibu kades tidak ingin dituding ikut terlibat melindungi dan menutupi aib warganya sendiri kenapa kasus a moral yang sudah dilakukan Y bertahun tahun kok malah di biarkan bukannya diproses secara hukum ,” kata warga.

Kami sebagai warga desa Sukarame, meminta kepada pihak terkait dan penegak hukum agar hokum ditegak kan se adil adilnya jangan ditutupi atau di peti eskan. Karena ini menyangkut moral masyarakat. Jika ini dibiarkan terus menerus maka masyarakat akan buta hukum selamanya.
“ Jujur saja warga memberi Worning tegas tapi bukan ancaman kepada pihak terkait jika kasus a moral ini di biarkan warga tidak bisa menjamin akan ada hal hal yang tidak di inginkan di masyarakat desa Sukarame,” tegas warga.

Informasi yang didapat Rabu (6/10/2015) menyebutkan, orang tua korban beserta adik serta paman korban didampingi salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat secara resmi akan melaporka kasus a moral itu ke Polres Garut untuk segera ditindak lanjuti sesuai hokum yang berlaku “ Keluarga korban termasuk Ibu, adik, kaka dan paman korban pagi pagi sekali telah berangkat ke Polres Garut untuk membuat laporan resmi di dampingii oleh LSM . Semoga kasus a moral ini dip roses sesuai aturan dan akan menjadi bahan pelajaran baik bagi warga sukarame maupun pelaku,” kata sumber pagi tadi.

Ditempat terpisah Ketua Forum Masyarakat Perduli desa Sukarame Kosasih saat dimintai tanggapannya terkait kasus a moral yang menimpa warga Sukarame di kantor Sekretariatnya meminta kepada masyarakat agar jangan anarkis. Jika memang apa yang di katakana Y dan sudah di akuinya di hadapan aparat desa, maka biarlah kita serahkan kepada penegak hukum yang berhak menanganinya.” Kita siap mengawal kasus itu hingga tuntas,” demikian Kosasih. (Asp)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *