Arie Kriting dan Nara Rakhmatia Memang Beda

Foto : Istimewah
(Foto : Istimewa)

Oleh: Hariqo Wibawa Satria (Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi)

Buk Hillary, ingat ya, nanti saat debat sama Trump, jangan hanya bicara kepada orang-orang di studio, tapi bayangkan seakan bicara kepada seluruh warga Amerika, bahkan dunia, nanti pasti di youtube-kan juga lo”. Sebagai Diplomat berpengalaman, Hillary tentu paham ini, tapi saya yakin timnya tetap mengingatkan Hillary sebelum debat Capres Amerika minggu lalu.

Demikian juga di Sidang Umum PBB kemarin, Baik Nara Rakhmatia yang mewakili Indonesia, maupun delegasi dari negara Kepulauan Solomon, Vanuatu, Nauru, Kepulauan Marshall, Tuvalu, dan Tonga pada hakikatnya sedang berbicara kepada warga dunia. Microfon di sidang umum PBB adalah microfon ternyaring di dunia.

Di sidang itu, Presiden Nauru, Presiden Marshall, dan perdana Menteri dari Vanuatu, Kepulauan Solomon, Tuvalu dan Tonga mengkampanyekan agar Papua merdeka, karena Indonesia melakukan pelanggaran HAM di Provinsi Papua dan Papua Barat. Jadi isu HAM digunakan mereka untuk memisahkan saudara-saudara kita di Papua dengan NKRI.

Dalam pidatonya, Diplomat Muda RI, Nara Rakhmatia paham target ini. Ia katakan “Itu jelas mencerminkan ketidakpahaman mereka terhadap sejarah situasi saat ini dan perkembangan progresif di Indonesia, termasuk di Provinsi Papua dan Papua Barat”. Saya menonton semua video Nara Rakhmatia ini, transkip lengkapnya juga saya baca. Kalimat-kalimat Nara itu dosisnya begitu pas disampaikan kepada negara-negara asing, yang tidak sekedar berkata, tetapi juga terus bekerja untuk memecah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Untuk memahami setiap kalimat dan pesan yang disampaikan Nara Rakhmatia, kita harus mempelajari apa yang disampaikan oleh pemimpin enam negara pasifik itu. Kita juga harus melihat langkah-langkah memisahkan Papua dari NKRI yang dilakukan oleh enam negara pasifik itu di luar sidang. Jadi, apa yang dikatakan Nara adalah jawaban dari pidato-pidato sebelumnya yang menyudutkan Indonesia di depan Sidang Umum PBB. Semoga Arie Kriting sudah mempelajarinya.

Jujur, saya melihat Arie Kriting seperti tidak senang dengan orang maupun media yang mengapresiasi dan memuji Nara. Lewat akun twitter @arie_kriting, ia menulis begini, “lagi-lagi bangsamu merayakan paras wajah, lupa dengan isi kepala”. Arie Kriting memposisikan diri sedang melihat dunia dari atas, padahal tidak. Arie harus ingat bahwa Nara diapresiasi karena isi kepalanya yang memperjuangkan keutuhan NKRI, bukan karena parasnya yang cantikPemberitaan media terhadap Nara semakin memperkuat kecintaan generasi muda terhadap NKRI dan ilmu Hubungan Internasional.

Hal lain yang dipersoalkan Arie Kriting adalah pernyataan Nara yang ini, “Komitmen Indonesia terhadap HAM tak perlu dipertanyakan lagi. Indonesia adalah pendiri Dewan HAM PBB”. Ia menyindir Nara dengan mengkaitkan dengan kasus-kasus pelanggaran HAM yang belum selesai di Indonesia, seperti kasus Bang Munir, dll. Dengan segala hormat kita kepada Bang Munir, saya katakan kritik Arie Kriting ini sah, namun tidak nyambung dengan tujuan yang ingin dicapai delegasi Indonesia di ruangan sidang itu.

Jika kita baca transkrip pidatonya, Nara Rakmatia dengan runut menjjelaskan  langkah-langkah yang sudah dilakukan Indonesia, perkembangan situasi Indonesia terkini. Ini disampaikan Nara untuk memperkuat pernyataannya ini “Komitmen Indonesia terhadap HAM tak perlu dipertanyakan lagi. Indonesia adalah pendiri Dewan HAM PBB”.

Kritikan Arie ini berlebihan. Ia tidak mempertimbangkan peristiwa-peristiwa sebelum sidang umum dan pernyataan delegasi enam negara-negara itu. Saya yakin, aktivis HAM di Indonesia bisa memahami posisi Nara dan tujuan yang ingin dicapaimya dalam  pidatonya itu. Jika Nara berbicara seperti yang diinginkan Arie Kriting maka tujuan diplomasi tidak akan tercapai, media-media asing yang ingin Papua merdeka akan menurunkan berita yang inti pesannya “Papua Pantas Merdeka”.

Tidak ada negara yang sempurna di dunia ini dalam semua bidang, namun semua Pemimpin Negara, semua delegasi mereka di pertemuan-pertemuan internasional akan menyampaikan yang terbaik tentang negaranya. Nah, apa kelebihan Indonesia, kesejahteraan jelas masih dalam perjuangan, lalu apa?, ya demokrasi, dan Nara dalam waktu yang sangat singkat sudah mempromosikan hebatnya demokrasi Indonesia di forum itu.

“Indonesia memiliki Komnas HAM yang aktif dan kuat sejak tahun 1993, masyarakat sipil yang aktif dan bebas”, tegas Nara Rakhmatia di forum itu.

Membaca transkrip pidato nara, mengingatkan saya waktu jadi narsum bersama Dr. Fachry Ali dalam sebuah diskusi di Kemlu RI, ketika itu Fachry Ali mengatakan. “Indonesia merupakan negara dengan kualitas demokrasi terbaik di ASEAN, bahkan di tingkat dunia perkembangan demokrasi Indonesia telah diakui. Hal ini yang menjadi pembeda utama antara Indonesia dengan negara-negara lainnya. Demokrasi yang dirasakan masyarakat Indonesia tidak dirasakan masyarakat negara ASEAN lainnya. Oleh sebab itu pemerintah dan masyarakat Indonesia tidak terlalu kaget dengan perkembangan internet dan media sosial yang melahirkan ‘otonomi individual’. Saya justru ingin bertanya sejauh mana pemerintah otoriter mampu bertahan di dalam lingkungan global, di mana arus informasi dan pengetahuan tak lagi bisa dibendung”.

Kembali ke Arie Kriting, saya sempat emosi membaca twit-twitnya yang reaktif, lalu saya baca juga tulisannya di blog ini [ariesatria03.blogspot.co.id]. Terlepas dari kritiknya yang tidak pas untuk Nara, saya menilai Arie Kriting seorang ingin masalah-masalah HAM di Indonesia cepat diselesaikan, pemerataan kesejahteraan dan kebahagiaan dipercepat,  Arie seorang yang begitu mencintai saudara-saudara kita di Papua.

Saya tonton juga video-videonya di youtube, Arie ini aktivis sebenarnya, sebagai pelawak tunggal, materi-materi yang disampaikanya cerdas dan penuh-penuh dengan kritik sosial. Mimik mukanya dalam menyampaikan sesuatu memberi pesan “seharusnya ini bisa lebih baik”.

Terima kasih Nara Rakhmatia, Kemlu RI, dan semua pihak yang terus berjuang untuk kebaikan Papua serta keutuhan NKRI. Terima kasih Arie Kriting yang terus menyampaikan pesan-pesan progresif. Kita semua, juga Nara maupun Arie, tidak ingin kehilangan saudara-saudara kita di Papua, caranya saja yang beda. Salam Diplomasi./***

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *