Abis Triliunan Rupiah Target Piala Adipura

DPRD di Minta Coret Anggaran Adi Pura

 Abis Triliunan Rupiah kali tetep banyak sampah./Ist

Abis Triliunan Rupiah kali tetep banyak sampah./Ist

POSTKOTAPONTIANAK.COM ! DEPOK-Kendati sejumlah anggaran telah dikeluarkan mencapai triliunan rupiah, telah abis digunakan untuk membiyayai kebutuhan mengejar target Piala Adipura. Namun selama 10 tahun dalam kepemimpinan Walikota Nur Mahmudi, Depok tak sekalipun meraih piala tersebut. Maka dari itu kedepannya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Depok diminta mencoret seluruh program Walikota Depok yang terkait dengan perolehan Piala Adipura.

“Kami berharap kepada DPRD untuk mengkaji ulang anggaran tersebut, lebih baik digunakan untuk pemenuhan infrastruktur kesehatan dan pendidikan. Coret saja anggaran itu. Yang lebih menjijikan lagi, Pemkot Depok tidak berhasil mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah di kali,” ujar Arief Muluk, warga Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, kemrin.

Dia menjelasnya, bahwa dirinya berharap DPRD mencoret mata anggaran yang terkait Piala Adipura, sebab pada hari ini ia menyaksikan langsung bagaimana Kali Baru yang melintas di tengah balaikota Depok dipenuhi sampah. Itu artinya, masih banyak warga yang membuang sampah di kali itu.

” Dan selama ini imbauan dan ajakan yang dilakukan walikota tidak pernah menyentuh masyarakat. Malah terkesan walikota lebih banyak melakukan kegiatan seremonial untuk menghabiskan anggaran tersebut,” jelas Arief.

Arief mengingatkan, sebagai warga tak sudi melihat APBD yang diambil dari pajak rakyat digunakan untuk acara seremonial. Bahkan,  uang yang harusnya digunakan untuk kepentingan rakyat konon menguap sampai ke kantong-kantong penguasa dan birokrasi.

“Maka dari itu, DPRD harus dan wajib menghentikan program seremoni dan pencitraan itu. Dewan jangan hanya diam, apalagi terlibat dengan kegiatan tersebut. Karena kita sama sekali tidak sudi,” imbuhnya.

Sementara itu, Nya Ahmadi yang tengah mengurus izin di Pemkot Depok mengeluhkan, bahwa merasa jijik melihat kondisi Kali Baru. Padahal, kali ini melintas di depan kantor walikota, kenapa bisa sekotor dan sejorok ini.

“Apa yang membuang sampah tidak tahu kalau kali ini melintas di kantor walikota,” keluhnya.

Dia sangat meminta kepada masyarakat yang tinggal di pinggir Kali Baru tidak membuang sampah ke dalam kali. Ia mengingatkan, dampak dari membuang sampak ke dalam kali adalah banjir. Sudah banyak contoh di Indonesia ini kalau banjir dapat memakan korban jiwa.

“Saya tidak tahu kenapa masyarakat masih membuang sampah sembarangan. Yang menjadi pertanyaan saya, apakah pemerintah mensosialisasikan ataupun mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kalau memang sudah, dan tidak diikuti, berarti ada yang salah dengan pemimpinnya,” ucap  Ahmadi.

Nya Ahmadi berharap agar Walikota Nur Mahmudi mengubah pendekatan dalam mengatasi masalah persampahan. Dimana, kata dia, kegiatan tersebut melibatkan masyarakat secara aktif.

“Jangan sampai pemkot begitu dominan, tanpa melibatkan masyarakat,” pungkasnya./Faldi/Sudrajat

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *